Minggu, 06 Februari 2011

Hikmah dari Si Tukang Baso dan Ponselnya

Waktu itu hari libur aku manfaatkan untuk jalan-jalan ke pasar. Mencari sesuatu yang kalau-kalau ada yang menarik. Aku berangkat sendiri tanpa ditemani anak-anak. Baru sampai di pasar eh…ternyata hujan mengguyur. Tanpa payung hanya bermodalkan jaket aku terus menempuh hujan. Tak bisa dihindarkan lagi aku basah kuyup.

Hujan sepertinya semakin deras, aku tak mungkin meneruskan berjalan dalam keadaan hujan yang begitu lebat. Hujan-hujan begini jalanan semakin terasa sempit. Kendaraan di parkir sembarangan, semakin tak ada ruang untuk pejalan kaki. Aku mencoba mencari tempat yang aman untuk berteduh. Gerobak-gerobak pedagang makanan kaki lima menarik perhatianku. Ada sate yang dari asap pembakaran dagingnya mengepul asap yang menebarkan aroma khas. Perutku menjadi lapar karenanya. Tapi aku tidak berminat untuk makan sate hari ini. Aku melempar pandangan kesebelahnya, Waah ada bakso. Hmm ini lah yang paling pas saat hujan begini. Tanpa pikir panjang aku berlari kearah penjual bakso. Aku duduk di bangku kayu sederhana yang disediakan, atap perlak gerobak bakso cukup sebagai tempat berlindung agar aku tak basah kena hujan. Meskipun aku sudah menggigil kedinginan karena separuh bajuku sudah basah.

“Bakso satu Mas,…!” ucapku.

“Baik Mba…!” jawab si Mas penjual bakso.

Aku membayangkan lezatnya bakso ini saat hujan, pandanganku tertuju ke sebelah penjual bakso, penjual es cendol. Aku berpikir, hujan seperti ini pastilah cendol ini tidak akan laku. Aku jadi kasian membayangkan si abang cendol. Tapi sepertinya dia santai saja. Karena mungkin sudah terbiasa, dan tahu resiko dan siap menerimanya. Aku menoleh lagi kearah tukang sate, si Mas sedang begitu sibuknya telphon-telphonan. Aku tidak tahu dengan siapa ia bicara, tapi sepertinya ia begitu gembira, sambil kakinya menyepa-nyepak air yang sudah mencapai mata kakinya.

Aku sedikit kaget ketika melengok penjual kue di belakangku. Gerakannya membuatku bertanya apa yang dilakukannya? Si ibu sedang menyelimuti anak perempuan kecilnya yang tengah tertidur. Biasa saja sebenarnya, tetapi menjadi luar biasa menurutku, karena anak itu ditidurkan dalam etalase kuenya. Oh Tuhan, gumamku, beginilah kehidupan di pasar tradisional. Di tengah hujan yang mengguyur begitu lebat. Adik kecil itu tetap tidur dengan nyenyaknya dalam etalase. Melihat keadaan itu, aku tidak bisa membayangkan kalau itu adalah aku, dan anakku.

Sibuk memperhatikan sekelilingnya, aku belum juga mendapatkan bakso pesananku. Kupikir si Mas sedang membuatkannya untukku, ternyata tidak. Menangkap kebingunganku si Mas berkata. “ Tunggu sebentar ya Mba..” ujarnya

Aku hanya menganggukkan kepala mencoba mengerti. Kini aku malah memperhatikan si Mas. Awalnya ia mengambil lap dan ngelap tangannya yang basah. Lalu merogoh kantong celananya, ia mengeluarkan sesuatu. Ternyata ponselnya. Ia mngambil lap yang tadi sudah di taruhnya di atas rak gerobak bakso. Lalu dengan hati-hati ia ngelap HPnya. Aku heran dengan yang dilakukannya. Alisku sedikit terangkat. Ia menatapku dan tersenyum melihat keherananku.

“ Ini biar tidak basah Mba…” katanya, membritahuku. Aku kembali tersenyum dan mengangguk. Kemudian Si Mas mengabil sebuah plastik yang masih baru, biasa plastik itu digunakan untuk membungkus bakso. Kali ini si Mas memanfaatkannya untuk melindungi HPnya. Dia memasukkan HP itu ke dalam plastik tadi, lalu mengikatnya baru kemudian ia memasukkan kembali ke kantong celananya.

“ Begini sudah aman Mba..” ujarnya.

Ia cepat-cepat menyiapkan semangkok bakso pesananku. Tidak menunggu lama lagi akhirnya aku bisa makan bkso. Ternyata bakso pinggir jalan enak juga pikirku. Sudah sangat lama aku tak pernah makan di tempat seperti ini. Dulu waktu kuliah masih sering, rame-rame bareng teman-teman.

Sambil menikmati bakso itu, aku berpikir dengan kelakuan si Mas penjual bakso. Begitu telatennya ia merawat HPnya. Jelas sekali dia cemas HP itu kena hujan, dan basah pasti ia membayangkan biaya servicenya yang mahal. Aku mengangguk-anggukkan kepala sendiri, membenarkan apa yang telah dilakukan si tukang bakso pada ponselnya.

Aku jadi teringat, aku pernah punya pengalaman,. Karena mendapatkan ponsel baru, yang lama kutaruh sembarangan di rumah. Si kakak yang masih 4 tahun suka mengambilnya, dan pura-pura main telpon-telponan dengan ponsel itu. Suatu hari aku tidak menyangka, kakak membawa HP itu ke rumah temannya, ia memasukkan ke dalam tas bersama mainan yang lain, pulangnya HP sudah tidak ada lagi. Saat kutanya katanya tadi dipinjam temannya. Dan ketika kutanya ke temannya dia bilang sudah dikembalikan. Namanya anak-anak dia mana tahu itu masih bagus apa ga, jadilah HP itu hilang. Aku sempat kecewa juga padahal kalau kupikir-pikir ponselku yang hilang itu sekelas lebih tinggi dari kepunyaan si tukang bakso ini.

Ini menjadi pembelajaran, bahwa sesuatu yang buat kita tidak berharga lagi. Belum tentu begitu buat orang lain.Si tukang bakso menjaga ponselnya baik-baik karena ia tahu susah untuk mendapatkan barang itu. Itu barang mewah yang paling berharga yang mungkin dimilikinya. Mungkin kita harus belajar dari si tukang bakso, menjaga barang-barang milik kita dengan baik. Karena tidak hanya aku, anda pun mungkin tidak akan merawat ponsel sebegitunya. Bahkan BB saja buat kita mungkin bukan barang mewah lagi, hingga kitapun lupa merawatnya seperti HP biasa si tukang bakso.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

Silahkan Memasukkan TAHUN, BULAN dan TGL LAHIR Anda untuk mengetahui Zodiak Dan Shio Anda

Tahun
Bulan
Tanggal
Zodiak:
Shio:

This script by
WEB AGUNG